Nama : Faidatun Mujawanah
Kelas : 4D
NPM : 16410169
Mata
Kuliah : Kajian Prosa Fiksi
Ulasan
Cerpen Gadis Kecil
Beralis Tebal Bermata Cemerlang
Ilustrasi
Wayan Kun Adnyana yang dimuat dalam Kompas
Cerpen Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata
Cemerlang ini merupakan cerpen yang
menarik untuk dibaca. Dilihat dari judulnya cerpen ini sangat unik sehingga
menarik pembaca untuk membacanya. Kesan awal membaca cerpen ini alurnya sudah
gampang ditebak dan ternyata kesan pertama saya membaca ini pun salah. Di awal
cerita pengarang sudah meneceritakan siapa itu gadis kecil beralis tebal dan
bermata cemerlang yang dimaksud dalam judul tapi keberadaannya masih diragukan
oleh tokoh aku dalam cerita tersebut. Dibuktikan dengan adanya kalimat Seorang gadis cilik beralis tebal
berdiri sendirian di peron, memandangiku. Dan matanya itu, mata yang cemerlang
itu, meski tidak memancarkan kegembiraan, tidak menyiratkan sedikit pun
penderitaan atau sekadar kegelisahan seperti umumnya kebanyakan mata anak
gelandangan. Dalam benak saya
menganggap bahwa cerpen ini akan memiliki cerita yang lugas maknanya tetapi setelah membaca
keseluruhan dari cerpen ini maknanya pun tersirat.
Awal membaca cerpen ini saya dibingungkan dengan
nama stasiun kereta api yang akan ditumpaki oleh tokoh aku dalam cerpen tersebut. Aku melihatnya dari jendela kereta api
menjelang keberangkatanku dari stasiun S menuju kota J. Selain itu, nama kotanya pun tidak jelas disebutkan dalam cerita tersebut
mungkin ada maksud lain dari pengarang untuktidak menonjolkan cerita tersebut
ke dalam karyanya atau bisa juga pengarang ingin menggunakan gaya yang berbeda
ketika menuangkannya ke dalam karyanya. Tetapi, menurut saya , seharusnya kalau nama tempat itu
penting untuk disampaikan kepada pembaca agar pembaca benar-benar tahu kejadian
ini itu terjadi dimana dan ketika berimajinasi pun akan sampai dan terlihat
lebih nyata-nyata.
Dilihat dari segi bahasanya cerpen ini juga mudah dipahami oleh
pembacakarena menggunakan bahasa sehari-hari yang biasa digunakan dalam
berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Kejadian-kejadian yang terjadi dalam
cerpen ini pun tidak asing lagi bagi lingkungan masyarakat ketika menyabut
tamu sehingga ceritanya lebih terkesan
benar-benar terjadi dan nyata. Cara penyajian cerpen ini pun sangat indah
karena bisa memberikan tebakan yang menarik kepada pembacanya terkait dengan gadis
yang beralis tebal dan bermata cemerlang itu di awal cerita. Pengarang diawal
cerita yang dimaksud gadis yang beralis tebal dan bermata cemerlang itu gadis
yang didapati tokoh aku ketika akan
berangkat ke stasiun. Tetapi, setelah itu pengarang menggambarkan gadis yang
beralis tebal dan bermata cemerlang itu istri dari Salhan yang termasuk teman
kenalan tokoh aku yang akan dikunjungi rumahnya oleh tokoh aku. Kulihat di depanku, seorang perempuan
menatapku. Alisnya tebal, matanya cemerlang, dan senyumnya manis sekali; persis
seperti yang dimiliki gadis kecil yang menatapku di stasiun S. Tak mungkin
perempuan ini ibu dari gadis cilik itu. Terlalu muda sebagai ibu. Atau
kakaknya? Tapi Sahlan pernah mengatakan dia hanya mempunyai seorang adik
perempuan. Tokoh aku membayangkan bahwa gadis yang beralis tebal dan
bermata cemerlang itu adalah adiknya atau bahkan dia adalah ibunya. Kulihat di depanku, seorang perempuan menatapku. Alisnya tebal, matanya
cemerlang, dan senyumnya manis sekali; persis seperti yang dimiliki gadis kecil
yang menatapku di stasiun S. Tak mungkin perempuan ini ibu dari gadis cilik
itu. Terlalu muda sebagai ibu. Atau kakaknya? Tapi Sahlan pernah mengatakan dia
hanya mempunyai seorang adik perempuan.
Jadi, dalam cerpen ini terdapat
keberagamanan penyampaian terhadap satu maksud yang dituju dan dicari
keberadannya yang ditunggu-tunggu oleh tokoh aku. Padahal yang ditunggu-tunggu
oleh tokoh aku adalah istri dari salhan yang merupakan teman kenalannya.
Dibuktikan dengan adanya kalimat “O ya,
kenalkan dulu, ini Shakila,” katanya sambil melirik perempuan bermata cemerlang
di sampingnya, “Adikku. Adik ketemu gede, ha-ha. Istriku tercinta!” Deg. Ada
sesuatu seperti memalu dadaku. Ternyata istrinya. Asem, kau Sahlan, batinku. Cerpen
ini juga memiliki pengimajinasian yang bagus tetapi ceritanya da yang masih
monoton karena setelah menceritakan di awal tentang gadis yang beralis tebal
dan bermata cemerlang tersebut terjadi di latar stasiun kereta api di kota tertentu kemudian di lain
situasi masih bercerita tentang hal tersebut lagi yang melatarbelakangi latar
kereta api tersebut sehingga pembaca seakan-akan sudah tahu kejadian tersebut
terjadi . Dibuktikan dengan kalimat Itulah
istriku yang lebih suka kusebut dan kuperkenalkan sebagai adikku. Perkenalanku
dengannya juga cukup aneh. Waktu itu aku sedang berada di atas kereta yang akan
berangkat dari stasiun S. Dari jendela kereta, kulihat dia, waktu itu masih
seorang gadis kecil, berdiri dekat gerbong keretaku. Matanya yang cemerlang
memandang lurus ke mataku tanpa berkedip. Aku mencoba tersenyum. Ternyata dia
membalas senyumanku dengan senyumannya yang manis itu.” Selain itu, dalam
cerita tersebut juga masih kurang karena naa kta dan stasiun yang diceritakan
lagi dalam situasi yang berbeda juga masih belum jelas nama kota yang ditujunyamasih
menggunakan inisal. Sahlan berhenti sejenak matanya menerawang, seolah-olah sedang
mengingat-ingat masa lalu. Aku sendiri kontan teringat gadis kecil beralis
tebal yang juga memandangiku di stasiun S ketika keretaku akan berangkat.
Cerpen tersebut juga mengisahkan bahwa pertemuan tokoh aku di dalam kereta
dan di stasiun bertemu dengan gadis beralis tebal dan bermata cemerlang itu
sama dengan pertemuan tokoh salhan dengan istrinya yang selalu bilang bahwa
istrinya juga memiliki alis tebal dan bermata cemerlang. Walaupun hanya senyum
juga sudah bisa mengutakan maksud hatinya. Tiba-tiba
Sahlan menepuk lenganku dan berkata seolah-olah dia tahu apa yang sedang
kupikirkan, “Kau tahu, adikku itu, eh, istriku itu, betul-betul perempuan
istimewa. Betul-betul istimewa. Dia berbicara tidak menggunakan mulut. Mulutnya
hanya untuk tersenyum dan bernyanyi. Mungkin kau mendengar nyanyian India tadi,
itulah lagu kesukaannya. Merdu ya?! Tapi dia hanya berkata-kata dengan matanya
dan sesekali dengan senyumnya.